memories, Uncategorized

Lepas Ikat Yang Membebat

Bila sewaktu lalu kau pernah membuatku merasakan lagi jatuh cinta lagi, hari ini juga, masih saja.  Namun kini bagiku, jatuh cinta tak semata pelepasan rasa, namun pencarian makna.

kemudian ketika ada versi yang berbeda di antara kita, maka mari kita lepas ikat kaki kita yang membebat, kita simpul saja, jalan ini mungkin bukan milik kita, atau ada cerita lain setelahnya. Karena kini aku belajar tentang hitam atau putih, tidak ada abu.

Bila tenggara jalan mu, nyata jalanku adalah utara. Tak hendak ku memaksamu mengutara, karena perjalanan haruslah waktu yang kau nikmati. Dan aku pun tak kuasa menenggara bersama mu, walau kau meminta ku untuk mencoba, jujur ini berat rasanya.

Kita sudahi saja, rasa rasa yang mengikat, hingga waktu terasa berat. Kini kau bebas mengikuti kata hatimu, mengejar cinta sejati barangkali, menemukan jawaban atas pertanyaan pertanyaanmu.

Bila kau bertanya, apakah aku masih mau  menunggu ? aku rasa tidak begitu. Aku akan menjalani arahku, menjalani juga kehidupanku, menjalani keyakinku.. Bila kelak kita bertemu lagi di suatu titik yang kita tidak duga, kita akan berjumpa dalam episode hidup kita yang berbeda.

 

Fn : Draft tulisan yang pertama dibuat  beberapa tahun yang lalu. Ah ternyata belum usia tulisannya, padahal “kisah” nya sudah usai. Ya udah kita sekalian aja di beresin tulisannya … ^^

 

 

 

Advertisements
memori, People in my life

[Kisah] Batik Pertamamu

Sesore itu kulihat kau dari kejauhan, tersenyum, rona ceria tersirat di wajahmu. Mungkin kau sedang bahagia saat itu, senyum yang sudah lama tak  kujumpai lagi. Mataku tertuju pada baju batik yang kau pakai. Ingatanku melayang ke beberapa masa yang lalu, saat ada masa kita sering bersama.

Sore itu kau bercerita dengan antusisme yang coba kau redam, namun aku tau kau saat itu berbahagia “Besok hari pertama ku bekerja, aku belum mempunyai pakaian yang pantas, besok antar aku cari baju, batik kurasa, aku ingin hari pertama ku aku terlihat pantas”.

Esok hari nya, kita berbegas menuju pasar, mencari baju batikmu. ah aku tak menyangka kau ternyata tipikal pria yang kurang simple memilih. Kukira biasanya pria akan lebih memilih pakaian, yang penting batik. Tapi tidak dengan mu. Kau tau kakiku hampir lelah mengikuti langkahmu yang sangat bersemangat hari itu.

Aku pun hampir lelah memberikan pendapat mana baju yang bagus menurutku. “Pilihlah sendiri, aku menunggu disini” kataku. Tapi kau bersikeras agar aku ikut memilihkan baju batik pertamamu, hingga akhirnya kita mendapatkannya satu. Kulihat wajah mu berseri seri saat itu, lucu rasanya, seperti anak kecil yang mendapatkan baju lebarannya. Saat  perjalanan pulang kau berkata “aku akan tampan besok dengan baju ini” dan aku pun tergelak.

Batik pertamamu beberapa tahun yang lalu, dan kau masih memakainya hari ini, saat aku dari tak sengaja melihatmu dari kejauhan. Tidak, aku tidak sedang mengingat masa lalu atau semacam nya, aku hanya tetiba saja ingat suatu fragmen yang pernah kita lalui bersama.

Aku tau, kita berbahagia dalam posisi masing masing kita saat ini, kau dengan hidupmu, aku dengan hidupku. Tidak ada yang lebih melegakan ketika kita mengingat masa lalu, dan kita tertawa lepas mengingatnya, seperti saat ini seperti saat aku mengingatmu, mencari batik pertamamu.

batik-pria-lengan-panjang-hijau-cream-cb142-va-330x0

Gambar hanya ilustrasi dari sini

 

catatan, People in my life, Perjalanan

Setapakmu

Saat rasa bukanlah segalanya.
Saat firasat cukup dihentikan saja.
Saat nyaman mungkin hanya persinggahan.
Saat pertemuan mungkin sebuah ujian.
Saat kita berada dalam rytme yang sama.
Saat itulah kita berada dalam arah berbeda.

Seperti malam itu, sehabis magrib
Saat ku telah selesai dengan sujudku,
Dan saat itu tangan mu terkatup
Matamu terpejam syahdu
Mengucap “Om Swastiastu”

Fn : setapakmu di senja itu
thanks for your kindness