Cermin, Perjalanan

Melepas Rasa

Taukah kah apa yang seringkali memberatkan hati dan fikiran kita, membuat energi menjadi terkuras habis, fikiran menjadi seperti spon yang kehilangan airnya, kering, kaku, hati menjadi menjadi mudah melemah.

Ah ternyata itu, berbagai rasa yang sadar tak sadar kau simpan dan pelihara, bahkan sering kau pupuk terus menerus, sehingga ia bertumbuh, bahkan mengakar dalam hati dan fikiran mu.

Amarah yang kau pendam, kecewa yang terus menerus kau pelihara, khawatir yang berlebihan, takut yang kau ciptakan, dengki iri yang kau terus sirami, jumawa yang kau peluk erat, pujian yang kau hauskan, kesan yang kau inginkan, pesona yang kau cita, pamrih yang kau puja, ambisi yang kau gilai.

Ah itu dia mereka, rasa yang seringkali membuat otak mu terasa “corrupt”, tiba tiba saja tidak bisa digunakan, atau seperti batrai telefon genggam yang seringkali terasa panas kemudian tiba tiba habis batrainya. Kau mudah lelah, tak ada daya.

Ah itu dia mereka, rasa yang membuat hatimu jauh dari tentram, jauh dari tenang, gelisah tak karuan, hatimu melemah, seperti bebuahan yang kehilangan cairannya. Seperti pepohon yang merapuh akarnya, seperti layang yang terbang terlalu jauh, terputus dari benangnya, tak ada arah.

Ah perasaan perasaan itu yang rupanya, yang ada dalam hati dan fikiran mu, entah kau sadar atau tidak, entah kau sengaja hadirkan atau tidak, hingga hati dan fikiranmu tidak dalam fitrahnya, hingga hati dan fikiranmu seperti “disconnected” , hati dan fikirmu kemudian “unfunction” sebagaimana mestinya.

Bagaimana apabila kau lepas semua itu, segala  amarah, dendam, kecewa, iri, dengki, jumawa, pamrih, puja dan puji. Bagaimana bila kau melepas semua itu, agar hati dan fikiran mu berperan sesuai fungsinya, agar hati dan fikiran mu kembali pada fitrahnya, agar hati dan fikiran mu bisa tenang, bahagia, tentram. Agar hati dan fikiran mu mengarah pada satu tujuan, Ridha-Nya. Itu saja. Lebih dari dunia dan isinya.

 

 

 

Advertisements
Cermin, My days, Uncategorized

Ketika Dengki Bersaudarakan Sombong

[ Sebuah Refleksi, Yang Mencermini Diri]

 Sungguh syaiton tak berhenti mengusik kejernihan hati kita. Gagal dari satu celah, ai akan menyelusup ke celah yang lain. Mungkin ia gagal menggoda kita dengan hal hal yang bersifat fisik atau materi. Ia gagal mengajak kita menampakan aurat, ia gagal menggoda kita untuk mencicip makanan dan minuman haram, ia gagal mengajak kita ke dalam pergaulan bebas, tak patah arang, ia pun presisten menggoda kita dari rasa terhalus kita, sesuatu yang tidak tampak, sesuatu yang kadang hanya kita yang tau, sesuatu yang hanya kita rasa.

Dengki, itu salah satunya. Sebuah rasa tak rela melihat orang lain suka, sebuah rasa tak suka ketika melihat orang lain bahagia, sebuah rasa tak bahagia ketika melihat orang lain berhasil berkarya. Dan kemudian dengki tak berhenti disitu saja, dengki membuat kita mengarang ngarang alasan dalam fikrian dan perasaan kita bahwa ia – orang yang kita dengki kan – tidak layak mendapatkan suka, bahagia atau sukses berkarya, dengan alasan alasan yang kita buat sendiri, dengan alasan dan penyangkalan yang kita berusaha adakan, agar memang sekali lagi, orang tersebut kita anggap buruk.

Lalu bagaimana dengan sombong. Ya sombong adalah menganggap diri kita lebih dari orang lain, melihatdiri kita lebih superior dari orang lain dan melihat orang lain lebih rendah dari kita, dan ketika melihat pada kenyataannya ada mereka yang lebih dari kita, kita tidak rela, karena kita selalu memposisikan diri kita lebih segalanya dari orang lain.

Memang pada kenyataannya, dalam hidup ada satu yang lebih unggul dari yang lain, lebih baik dari yang lain, lebih sukses dari yang lain, atas usaha nya. Namun yang tidak pantas adalah ketika merasa bahwa kita berbangga bangga dengan kelebihan kita, padahal apapun kebaikan, keunggulan, kelebihan yang kita miliki, semata mata karena Ridha-Nya, karena Ia mengizinkan. Apabila Ia berkehendak kita bisa dijadikan hina sehina hinanya.

Ya, saya sedang bercermin diri, ketika saya merasa dengki dengan orang lain, di saat yang sama saya sedang sombong akan diri saya sendiri. Ahh… kadang dengki dan sombong ini tidak saya sadari, tertutup, terhijab, tersembunyi, tak terlihat, tapi menjadi penyakit jiwa yang akan meradang lebih jauh apabila tidak kita sadari dan perbaiki.

Akhirnya sebagai manusia kita harus secara bahagia mengakui akan kelebihan orang lain, kesuksesan orang lain, belajar darinya, mengambil pelajaran dari kebaikannya. Adapun kelebihan yang kita miliki, semata mata adalah karena Izin-Nya, hingga kelebihan dan kebaikan itu ada dalam diri kita.

Selamat bercermin, selamat membersihkan jiwa-hati, berdoa kepada Nya, untuk selalu dihindarkan dari iri, dengki, takabur, sombong, Aamiin.

Dan ketika menulis ini, terbukalah Al Quran yang menunjukan QS Sad 75-77

  • Allah berfirman : “Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kekuasan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang lebih tinggi?”
  • Iblis berkata : “ Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”
  • Allah berfirman : “Kalau begitu keluarlah kamu dari surge ! sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk”

 

Makin yakin lah saya, bahwa dengki dan sombong adalah sifat iblis. Semoga kita bisa dilindungi dari nya, Aamiin yaa Rabbal Alamiin.