In Time [Sebuah Review Film] dan sebuah renungan tentang [ WAKTU ]

Beberapa minggu lalu saya menonton sebuah film berjudul “IN TIME” film fiksi  ilmiah yang dibintangi Amanda Seyfried, Justin Timberlake, berkisah tentang suatu masa dimana komoditas yang paling berharga di dunia bukan lagi uang, harta atau jabatan, namun yang paling berharga adalah waktu.

intimeposter05

Di masa itu, digambarkan bahwa seseorang mengetahui sisa waktu yang dia punyai di tangan mereka yang tertera secara digital, berapa tahun, berapa bulan, berapa minggu, berapa hari, berapa jam, berapa menit yang di hitung dalam satuan detik. Dan saat itu WAKTU adalah alat tukar untuk hal apapun, bukan lagi uang. Misalnya seseorang yang akan membeli makanan maka ia membayar/menukar makanan itu dengan satuan waktu yang ia punya. Satu buah burger misalnya seharga 10 menit waktu, maka ketika ia mebeli makanan itu, otomatis jatah waktu yang ia punya berkurang. Semua hal dibayar dengan waktu, membeli bunga, naik bis, membayar biaya rumah sakit, bahkan hadiah pun tidak lagi berupa barang atau uang, namun hadiah kepada seseorang adalah berupa pemberian satuan waktu.

Saking berharganya waktu pada masa itu, terjadi pemburuan satuan waktu, orang mau saling membunuh, agar bisa “mencuri” waktu yang seseorang punyai dan waktu orang yang dibunuh, menjadi miliknya. Orang orang tidak lagi berburu uang, namun berburu waktu, mereka menyadari waktu mereka makin menipis di muka bumi, sedangkan masih banyak hal yang masih ingin dikerjakan dan masih banyak impian yang ingin diraih.

Salah satu scene yang cukup mengharukan dalam film ini adalah ketika seorang Ibu, melihat sisa waktu yang ia punyai tak lama lagi, hanya beberapa menit saja, dan ia ingin menemui anaknya. Ia melihat waktunya tak akan cukup untuk ia menemui anaknya, ia memohon kesana kesini untuk meminta tambahan waktu agar bisa menemui anaknya, namun tak ada seorang pun yang mau memberikan tambahan “waktu” pada sang Ibu, sehingga walau sambil berlari sekuat tenaga menemui anaknya, waktunya tak cukup, Sang Ibu meninggal, Time’s Up.

time

Kurang lebih begitu cerita tentang film ini, diantara bumbu bumbu percintaan dsb, menurut saya film ini cukup bagus dan memberikan pengingat kepada kita, tentang betapa berharga nya waktu, waktu lebih berharga dari uang, emas, atau harta harta lainnya. Dan mungkin apa bila cerita tersebut ada di dunia nyata, kita akan menukar apapun yang berharga untuk ditukarkan dengan waktu, untuk mendapat tambahan waktu, karena waktu adalah satu satunya hal yang tidak bisa diulang.

Film ini mengingatkan saya dengan sebuah surat dalam Al Quran, tentang waktu : Al Ashr (Demi Masa)

Artinya:  Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3). (QS: Al-Ashar: 1-3) 
Seorang ustadzah dalam sebuah kajian, pernah membahas surat ini, surat yang berissi tiga ayat namun sangat dalam dan luas maknanya.Bahasannya kurang lebih seperti ini : Bahwa kenapa manusia berada dalam kerugian? karena hidup sebenarnya pengulangan, pengulangan rutinitas, yang kita ulang berhari hari, berminggu minggu, bertahun tahun. Rugilah orang yang hanya mengisi hidupnya hanya menjalai rutinitas semata, hidup hanya “menjalani” waktu saja, mengikuti arus waktu, kecil, sekolah, dewasa, bekerja, menikah, mempunyai anak, dan anaknya mengikuti pola yang sama.
Sungguh merugi apabila hidup hanya mengaliri waktu, kita tidak menjadi apa apa, kita hanya biasa, kita menjadi orang yang merugi karena waktu tidak “mengistimewakan” kita. Kecuali orang orang yang mau berbuat kebaikan dan amal soleh, hari demi hari, meningkatkan kualitas hidup, dan menjadi manusia yang bermanfaat berdasarkan keimanan.
Ah jadi merenung, betapa banyak waktu yang saya sia siakan, tidak dimanfaatkan dengan maksimal, dengan dalih malas atau dalih ada waktu “nanti”, padahal kita tak akan pernah tau akankah ada “nanti” untuk kita. Penyesalan akan waktu yang terbuang, tersia, tidak termanfaatkan dengan baik, lebih dalam rasanya, ketimbang kehilangan uang atau harta yang bisa kita cari lagi.
Sahabat Rosul Tercinta, ALi Bin Abi Thalib R.a pernah berkata :
Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan lebih dari itu diperoleh esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini tidak mungkin dapat diharapkan kembali esok hari. 

Semoga waktu yang tersisa, dan entah seberapa, bisa kita maksimalkan per mili detiknya untuk mencapai Ridha-Nya,

Aamiin

time 2

2 thoughts on “In Time [Sebuah Review Film] dan sebuah renungan tentang [ WAKTU ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s