(memutuskan) bercerai …

Minggu kemarin ceritanya abis berkunjung ke rumah seorang teman di Jakarta. Menginap, kurang lebih dua hari. Singkat cerita ternyata temen ku itu lagi dalam proses perceraian dengan suaminya. Kaget juga, ngeliat si temen aku itu orangnya nyantai sekali.

Mereka sudah menikah sekitar 5 tahunan, masih pasangan muda, usia mereka sekarang sekitar 30 an. Kemudian kita ngobrol, ternyata permasalahan mereka kurang disebabkan banyak hal, orang tua yg terlalu dalam mengintervesi, pekerjaan, juga pandangan mengenai hidup, visi misi dan pandangan mengenai pernikahan itu sendiri.Panjang lebar dia bercerita tentang bagaimana usaha mereka mempertahankan, mengusahakan, dan pada akhirnya stuck.

Akhirnya cerita perjalanan pernikahan si temen itu jadi semacam nasihat. Dia juga banyak kasih nasihat base on pengalaman nya.

” Riska…dalam pernikahan itu kalian bedua harus jelas tentang tujuan kedepan, pandangan lu tentang hidup, pandangan kalian tentang mau diisi apa hidup kalian bedua, kesepakatan2 tentang pekerjaan, keuangan, keluarga sampai kehidupan sosial”

” Riska, yang pertama harus kalian sepakati adalah tentang visi misi hidup dan pernikahan, itu yg pertama harus disepakati, bukan tentang rumah, bukan tentang mobil, bukan tentang materi materi, hal itu ngikutin setelah kalian berdua sepakat mengenai visi misi pernikahan”

Well she teach me alot of thing, bukan dengan teori, tapi pengalaman. Yang buat saya kagum adalah tentang pandangan hidup temen ku itu, penempilah luar yg cendrung tomboy, unik, dan apa adanya. Tapi jauh dari itu she soo deep seeing life. Keinginan nya untuk mengabdi ke masyarakat begitu besar, walau secara materi dia tergolong sangat berkecukupan, dia menolak hidup hedonis, humble.

Satu hal lagi yg buat saya belajar dari si temen adalah ketulusan. Pagi itu mantan suami nya datang kerumahnya, jemput temen ku itu untuk urus2 surat2 perceraian mereka, mereka berdua pergi berdua ke kantor pengadilan agama layaknya dua orang sahabat yang sedang mengerjakan tugas kelompok dari gurunya. Akur. Ngobrol, sesekali tertawa.

Aku tanya ke temen ku itu ” tri.. Kamu ngerasa aneh ga sama situasi kaya sekarang, ngurus perceraian bedua, masih kaya temenan, ko bisa”

” iya pada awalnya, pasti. Awalnya kita sahabat, kemudian nikah, kemudian memutuskan bercerai. Pastinya sangat sulit ngadepin situasi kaya gini. Tapi semua harus dijalanin. Aku ga mau nahan dia terlalu lama, mungkin dia juga ada keinginan untuk segera berkeluarga lagi” jawabnya

Over all, i see she is a strong woman. Aku tau dia menyembunyikan kesedihannya, aku tau ini tak mudah baginya, bagi wanita. Tapi Untuknya ga semua orang perlu tau apa yang ia rasakan.

Salute for u girl, thankyu for the lessons.

Thankyuu Atri, semoga kamu segera mendapatakan seseorang yang bisa seiring sejalan berkarya.

21 thoughts on “(memutuskan) bercerai …

  1. Menarik ni teh riska, makasih dah berbagi. Tapi terdetik dalam hati saya (mungkin hati yang picik), kekhawatiran secara global, jangan2 ada pengaruh ‘kesetaraan gender’ terhadap ketidakmampuan menundukkan diri sebagai ‘makmum’. Gak salah memang punya visi misi, tapi alangkah baiknya tidak mengubur realita kodrat perempuan sebagai makmum suaminya. Saya tidak bermaksud menjudge kasus teman teh riska. Cuma khawatir peradaban global yang semakin kering. Allahu A’lam, Allahul musta’an.

    • No… Temen saya bukan pengenut faham feminisme atau semacamnya. Walau secara lahiriyah terlihat “awam”, namun dia justru patuh terhadap ” hirarki” suami istri, dan menjalaninya. Permasalahan ny bukan nya di sisi tidak taat, tapi hal lain yang sepertinya tidak menemukan titik temu. Justru sebaliknya dia “menginginkan” “mendorong” suami nya yg me lead rumah tangga, itu yg tidak didapat.

      Banyak faktor. Point ny adalah -yg dinasihatkan temanku- sebelum pernikahan harus ada hal2 penting yang dikomunikasikan di awal. Dan hal ini yang menjadi sering terlupa.

      Wallahu a’lam

  2. yaa.setuju dengan temanmu mbak
    dari awal sebelum nikah harus nyamain visi misi..jadi kalo pas taaruf selain setor biodata juga ngasih tahu ini dari pihak lelaki maunya istri begini..dari pihak perempuan apa setuju..
    tapi bagian yang “interverensi orangtua” memang makjleb -_-
    selamat menikmati akhir ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s